(Masih) Tentang Majalengka

Sepertinya bagaimana saya menjelaskan dan bercerita tentang kampung halaman saya tidak pernah ada habisnya. Ya walau hanya sebuah kota kecil di kaki Gunung Ciremai, tapi buat saya yang sedang merantau di tanah orang, tentunya merundakan Kabupaten yang mempunyai slogan “Sindangkasih Sugih Mukti”.

Kab. Majalengka saat ini terutama kawasan Majalengka kota akhir-akhir ini memang sedang berbenah dan menanta diri. Boleh saya berpendapat bahwa memang tata ruang atau penataan Majalengka kota terkesan terlambat. Coba bandingakan dengan Kota-kota lainnya di Jawa Barat, sepertinya Majalengka harus mengejar ketertinggalan dari kota lainnya.  Namun beberapa waktu ini pembenahan wajah Majalengka kota cukup terasa, terutama saya dan mungkin teman-teman yang juga merantau keluar Majalengka dan ketika pulang kampung akan merasa pangling dengan wajah Majalengka Kota. Mulai dari Tugu selamat datang di Jatipamor, Bundaran Munjul dan Taman Dirgantaranya, kemudian pelebaran jalan, kemudian Tugu Kecap dan Bundaran Cigasong, bahkan saat ini sedang dibangun jalan lingkar utara kota. Sungguh sebuah progres yang sangat baik untuk menanta wajah Kota Majalengka tercinta ini.

Walau demikian teman-teman, banyak yang harus diperbaiki dari Majalengka ini, bukan saja adanya upanya mengubah image kota pensiunan menjadi sebuah kota yang mempunyai denyut kehidupan warganya di setiap saat. Salah satunya adalah bagaimana mensinergikan wilayah utara dan selatan Kab. Majalengka. Kita ketahui bahwa Wilayah Majalengka mempunyai bentuk memanjang dari utara dan selatan. Kedua wilayah tersebut mempunyai topografi yang berbeda antara daratan rendah di utara dan daratan tinggi dan pegunungan di selatan. Tentunya pembangunan yang ada tak hanya terpusat di wilayah Majalengka kota tetapi juga merambah setiap sudut wilayah di Majalengka. Mengapa demikian karena yang diharapakan pembangunan yang berlangsung dapat dinikmati oleh saudara-saudara di seluruh wilayah Majalengka. Dari Jatitujuh di Utara sampai Lemasugih , Malausama, dan Cingambul di selatan.

BERWISATA KE MAJALENGKA, MEMANG ADA APA?

Gerbang alun-alun bagian selatan, sebelum direnovasi

Banyak sekali liputan televisi menampilkan berbagai objek wisata diseluruh penjuru daerah di Indonesia, tetapi pernahkah menampilkan objek wisata yang ada di Majalengka?. Mungkin saja pernah tetapi jarang sekali tayang dilayar kaca, tak seperti kabupaten tetangga semisal Kuningan, Cirebon atau Sumedang. Cukup miris memang, bila di lihat segi keindahan alam, Majalengka bisa bersaing dengan Kuningan yang notebene sama-sama ”pemilik” dan menjual panorama serta keindahan Gunung tertinggi di Jawa Barat, Ciremai, atau menampilkan berbagai budaya serta kuliner semisal Cirebon? padahal Majalengka juga mempunyai, tetapi mengapa seakan-akan pariwisata Majalengka tak begitu terkenal dan dilirik oleh para wisatawan regional, nasional, ataupun internasional?. Mungkin untuk melirik pangsa pasar wisatawan internasional masih terlalu muluk, tapi untuk wisatawan regional dan nasional seharusnya bisa dan lebih untuk bisa ditingkatkan dan diperkenalkan. Sebagai contoh, Mungkin mereka yang berasal dari wilayah III Cirebon (Indramayu, Cirebon Kota/Kab. dan Kuningan yang suka berwisata mengenal berbagai wisata yang ada di Majalengka, memang tak semua, hanya yang menjadi andalan semisal, yaitu Curug Muara Jaya di yang terletak di kaki Gunung Ciremai di kecamtan Argapura.

Curug Muara Jaya

Siapa yang tak mengenal objek wisata ini, selain menjual daya tarik berupa curug (b.sunda: curug = air terjun), namun juga kesejukan udara yang ada. Bila dilihat saat hari libur, semisal liburan sekolah atau hari raya, banyak sekali wisatawan yang datang, tak hanya dari Majalengka tapi juga dari Kabupaten yang berdekatan dengan Majalengka. Sebenarnya ini merupakan suatu potensi besar bagi Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk menarik pemasukan dari sektor parawisata. Tinggal bagaimana mengelola dengan baik serta membangun sarana pendukungnya. Misalnya saja akses jalan menuju lokasi curug muara jaya yang rusak, serta kondisi kebersihan di lokasi yang tak terjaga, ini merupakan pekerjaan rumah yang harus dikerjakan pemerintah daerah. Juga tentang cara ”mengemas objek wisata yang menarik dari objek wisata tersebut agar wisatawan datang untuk berkunjung. Sebagai contoh bagaimana curug sidomba di Kuningan yang sebenarnya menurut saya kalah besar dan indah dibanding curug muara jaya, namun yang menarik wisatawan tak hanya menjual curugnya saja tetapi juga sarana pendukung lainya. Inilah yang harus pemerintah daerah Majalengka contoh dari bagaimana pengelolaan pariwisata Kabupaten Kuningan yang dapat berkembang.

Pemandangan dari Curug Muara Jaya

Terlebih dari akan dibangunanya Bandara Internasional Jawa Barat dan akses langsung dari Ibukota Provinsi dan Ibukota Negara melalui dibangunya jalan tol Cisundawu dan Cikapali, ini momentum agar Majalengka dapat dikenal luas sebagai salah satu tujuan wisata di Jawa Barat. Memang perlu proses yang panjang untuk memajukan pariwisata di Kabupaten Majelengka, tapi apabila melihat progres perkembangan Majalengka terutama di penataan Kota Majalengak senditi, yak menutup kemungkinan perkembangan pariwisata berjalan dengan cepat.

MAJALENGKA JADI IBUKOTA JAWA BARAT?

Wacana ini muncul dari usulan anggota DPR RI asal Jawa Barat juga dari Anggota DPRD Jawa Barat sendiri, saya cukup kaget dengan adanya wacana ini, karena yang saya tahu pemerintah akan memmindahkan Ibukota Jawa Barat ke wilayah Ciwalini di Kab. Bandung Barat. Memang ada sedikit rasa bangga daerah asal saya di rencanakan menjadi Ibukota Jabar bahkan konon katanya juga direncanakan sebagai penggangti Jakarta sebagai pusat pemerintahan Negara!. Banyak kalangan menganggap posisi Majalengka sangat strategis dan juga mempunyai prospek kedepan yang sangat bagus bila di lihat dari banyaknya proyek yang akan di bangunan di daerah Majalengka dan di sekitarnya, yaitu Bandara Internasional Jawa Barat di kertajati, Jalan Tol Palimanan – Cikampek, Tol Cileunyi – Sumedang – Dawuan, Jalur KA Bandung – Cirebon, Pelabuhan Internasional (samudra) di Cirebon dan Waduk Jatigede di Sumedang.

Namun ada sedikit kekhawatiran yang saya rasakan, apabila wacana ini menjadi sebuah kenyataan, bagaimana tidak bahwa suatu saat Majalengka pun akan “menikmati’ semerawutnya ibukota pemerintahan, sebagaimana Bandung dan Jakarta saat ini rasakan. Macetnya jalanan, polusi dan berbagai macam masalah khas ibukota akan terjadi di Majalengka, Padahal Majalengka saat ini sangat terkenal dengan ciri kota yang sepi dan tenang. Hal ini lah yang dirindukan oleh para perantau asal Majalengka ketika pulang kampung dari hiruk pikuk kota besar. Namun tak ditampik bahwa wacana pemindahan ibukota Jawa Barat dari Bandung ke Majalengka tentunya juga akan membawa dampak positif bagi masyarakat Majalengka, hal inilah yang saya dukung apabila wacana ini mendaptkan manfaat untuk mensejahterakaan masyarakat Majalengka

Menempuh Jalur Selatan Jawa Bagian 2. (Habis)

Lepas Perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah kami memasuki Kabupaten Cilacap. Untuk pertama kalinya saya memasuki kabuapten Cilacap ini dari arah barat. Kabupaten ini adalah kabupaten dengan wilayah terluas di Provinsi Jawa Tengah. Karena saking luasnya maka akhir-akhir ini muncul aspirasi dari masyarakat cilacap bagian barat untuk memekarkan Kabupaten Cilacap menjadi 2 yaitu Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Majenang (Cilacap Barat). Alasan mereka adalah jauhnya pusat pemerintahan dengan wilayah mereka. Sebenarnya Pemerintah Kabupaten Cilacap mencoba memberi fasilitas pemerintahan di wilyah Majenang sekitarnya dengan membuat RSUD, kantor samsat dan lain sebagainya. Namun masyarakat Majenang tetap berkehendak untuk memekarkan diri dari Cilacap. Bahkan bila pemekaran yang di inginkan tidak bisa maka opsi lainya adalah untuk bergabung dengan Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis di Provinsi Jawa Barat. Mengapa alasan masyarakat Majenang terutama Dayeuhluhur memilih bergabung dengan Banjar atau Ciamis? Dilihat dari aspek ekonomi masyarakat Dayeuhluhur sangat tergantung perdagangan dengan Kota Banjar. Segala kebutuhan ekonomi berasal dari Banjar, Ciamis Bahkan Tasikmalaya. Mereka enggan bila berdagang ke Ibukota Kabupaten yaitu Cilacap, karena jarak yang ditempuh sangat jauh. Dari Aspek Budaya Masyarakat Majenang, Dayeuhluhur dan sekitarnya mempunyai adat istiadat Sunda. Sehingga ikatan emosional lebih cenderung ’sadulur’ dengan Kota Banjar atau Kab. Ciamis. Hal ini mengingatkan saya dengan problem yang sama di wilayah Cirebon.

Kembali ke perjalanan saya melintasi jalur selatan, sepanjang perjalanan dari Majenang hingga Wangon cenderung membosankan, selain menurut saya jalar yang sempit dan berlubang juga cenderung sepi. Selai itu pemandangan yang ditawarkan hanya perkebunan karet. Tapi meski demikian satu hal yang saya sukai dari Jalan lintas ini adalah, ketika pagi hari kabut dan embun masih sangat pekan, walau pun sedikit mengahalangi berkendara sepeda motor saya namun memberikan kesejukan dan warna lain dalam perjalanan ini. Ada keunikan yang saya temui dala perjalanan ini, adalah meski telah memasuki wilayah Jawa Tengah namun banyak sekali tempat-tempat yang berawalan ’CI’ yang biasanya di pakai di daerah Tatar Sunda, namun apabila kita melihat sejarah memang beberapa daerah di Jawa Tengah bagian barat dulunya menjadi bagian wilayah kerajaan Sunda, jadi tak heran sisa-sisa budaya sunda masih dapat di temukan.

Lepas Wangon jalanan cukup ramai berbeda dengan jalan antara majenang dan wangon yang relatif sepi. Jalanan cukup bagus namun ada di beberapa tempat keadaan cukup rusak. Melewati  perempatan buntu motor yang saya kendarai terus melaju menuju Jogjakarta. Sempat saya berhenti di Karangayar, Kebumen untuk beristirahat sejenak, karena hampir 6 jam berkendara motor nonstop dari Majalengka. Sempat di hadang hujan saat memasuki Kulon Progo namun akhirnya pada pukul 13.00 sampai juga di Jogjakarta. Demikian perjalanan pertama saya melewati jalur selatan Jawa, dan tunggu kisah menarik selanjutnya pada perjalanan saya untuk kembali pulang kekampung halaman, kali ini melewati jalur Purwokerto-Prupuk, Sampai berjumpa..

Keliling Lawang Sewu

Keinginan saya berwisata ke Kota Semarang akhirnya tercapai, dan tempat wisata yang di tujuan adalah Lawang Sewu. Sudah lama saya ingin berkunjung ke tempat ini, karena begitu penasaran dengan bekas kantor pusat perusahaan kereta api swasta milik belanda bernama NIS (Nederlands-Indische Spoorwegen) ini. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Kota Yogyakarta menuju Semarang dengan waktu tempuh 2 1/2 jam dengan sepeda motorku, akhirnya saya yang kebetulan ditemani oleh seorang teman sampai juga di Kota Semarang. Setelah Sampai di Semarang kami sedikit kebingungan dengan letak Lawang Sewu, maklum saya baru pertama kali menginjak Kota Lumpia ini, tetapi pada akhirnya kami menemukan Gedung Lawang Sewu setelah melihat papan petunuk arah menuju Tugu Muda. Mengapa demikian, karena letak Tugu Muda berada di depan Bangunan Lawang Sewu.

Memasuki Bangunan Lawang Sewu dengan di temani oleh seorang pemandu, saya langsung di perlihatkan bagaimana arsitektur bangunan Lawang Sewu yang menawan. Yang paling mencolok saat memasuki Lawang sewu adalah kaca patri yang indah pada ruang utama. Yang tergambar di kaca tersebut adalah dua orang wanita Belanda dan di tengah-tengahnya terdapat roda kereta api. Menurut pemandu kami kedua wanita tersebut adalah penunggu Lawang Sewu, apa maksudnya? entahlah saya pun sedikit bingung tetapi mulai meraskan sesuatu yang lain di Lawang sewu. Selanjutnya Pemandu mengajak kami ke loteng atas Bangunan Lawang Sewu yang pada jaman Belanda di gunakan sebagai onderdil kereta api namun ketika “Saudara Tua” kita yaitu Jepang berkuasa di gunakan sebagai penjara dan dan tempat penyiksaan. Pemandu menceritakan bahwa para tahanan Jepang di gantung di tiang-tiang yang berada di tempat ini, Ia juga meperlihatkan salah satu tiang rangka atap yang melengkung terkena peluru meriam (atau mortir) pada saat pertempuran lima hari di Semarang terjadi. Diceritakan pula medan pertempuran terjadi di depan Lawang Sewu ini. Setelah juga mengunjungi salah satu menara. Kami melanjutkan perjalanan ke salah satu bangunan lainya yang ada di komplek Lawang Sewu ini. Di bangunan ini terdapat ruang bawah tanah. Saya dan teman cukup tertantang untuk masuk ke ruang bawah tanah ini, karena walau pun siang hari keadaan ruang bawah tanah ini terlihat sangat gelap. Setelah membayar biaya masuk untuk menyewa lampu senter, sepatu boat dan pemandu lainya, kami pun masuk keruang bawah tanah untuk menyusul rombongan wisatawan yang telah lebih dulu masuk. setelah melewati tangga dan berbelok menuju satu ruangan yang berbentuk seperti koridor kami melihat rombongan telah jauh meninggalkan kami, kami pun ragu untuk menyusulnya karena selain lantai ruang bawah tanah tergenang air juga karena saya baru tersadar bahwa tempat dimana saya beradau adalah ruangan yang pernah di gunakan sebagai tempat uji nyali oleh program acara dunia lain. saya dan teman pun segera untuk naik kembali dan menunggu rombongan selanjutnya.

Setelah mendapatkan rombongan (seluruhnya siswa smp dan perempuan), saya dan teman saya di tempatkan di barisan paling belakang!. cukup tenang juga pada awalnya menjelajahi ruang bawah tanah ini, Tetapi setelah pemandu menceritakan dan menjelaskan ruangan-ruangan apa saja dan “ada” di ruang bawah tanah ini, perasaan takut pun mulai muncul. Dari tentang penjara jongkok sampai ruangan yang sampai sekarang di tutup karena berisi mayat-mayat para tahanan yang tak sempat di buang ketika perang lima hari terjadi, serta tempat pemenggalan kepala tahanan oleh samurai prajurit atau penjaga penjara. perjalanan ini semakin menakutkan dan diperparah karena sang pemandu berbicara bawah, di belakang rombongan kita ada yang mengikuti!. Tentu saja saya yang pada akhirnya berada di barisan paling belakang setelah teman saya tiba-tiba merangsek masuk ke tengah rombongan, langsung mempercepat laju jalan dan sesekali menengok ke belakang. Sungguh pertama kalinya rasa takut menguasai saya. setelah berputar-putar di ruang bawah tanah rombongan yang saya ikuti dan akan keluar dari ruang bawah tanah, sang pemandu berhenti dan memerintahakan kami untuk duduk di pipa besi dan mematikan lampu senter. Sang pemandu ingin rombongan merasakan bagaimana seperti acara uji nyali. Ketika lampu senter padam seluruhya, pemandu memberitahukan agar seluruh rombongan melihat ke ujung lorong ruang bawah tanah. Saya pun mengikutinya, memecingkan mata dan, WOW sungguh pertama kalinya saya melihat “makhluk halus” sepanjang hidup saya, sosoknya hitam yang terkadang menghalangi sinar matahari yang sedikit masuk di ujung lorong. lalu pemandu cepat-cepat memerintahkan rombongan untuk segera naik karena, menurut dia makhkuk tersebut hendak menuju rombongan saya. Sungguh pengalaman yang menakutkan bagi saya namun cukup menjadi sebuah pengalaman berharga bagi saya.
Setelah keluar dari ruang bawah tanah dan Gedung Lawang Sewu, saya menikmati seporsi makanan khas Semarang yaitu Tahu Gimbal yang di jual oleh seorang pedagang di depan Lawang Sewu. Cukup unik juga kuliner satu ini. berisi sayur-sayuran, tahu goreng yang di bentuk kipas, juga telur dan kerupuk udang di sajikan dalam makanan tersebut. Selain itu bumbu yang di dominasi oleh Bawang putih dan tak lupa petis semakin menambah cita rasa Tahu Gimbal ini, apalagi saya menikmati kuliner ini sambil memandangi taman Tugu Muda yang cuaca kala itu cukup mendung.

Dengan habisnya satu porsi Tahu Gimbal dan semakin sorenya hari, saya pun beranjak meninggalkan Kota Semarang dengan sepeda motorku menuju Yogyakarta.

Menempuh Jalur Selatan Jawa Bagian. 1

Biasanya ketika saya pulang dari Jogja menuju Majalengka, Saya mengambil jalur tengah utara,yaitu jalur Jogja – Purwokerto – Cirebon. Namun saat pulang kembali kemarin mencoba untuk melewati jalur selatan yaitu Ciamis – Banjar – Majenang – Wangon – Jogjakarta dan di tempuh dalam waktu 8 jam. Memulai perjalanan pukul 5 pagi dari Dari Kampung Halaman tercinta dengan menggunakan sepeda motor dan di dampingi oleh seorang teman dengan melalui jalur Majalengka – Ciamis,,suasana perjalanan di dominasi oleh udara sejuk dan keindahan matahari yang malu-malu keluar dari balik Gunung Ciremai. Tepat di jalan Cikijing – Cingambul banyak masyarakat daerah sekitar melakukan lari pagi di bahu jalan bahkan terkadang sampai di tengah jalan, mungkin hal ini hanya terjadi di hari minggu pagi tapi harap waspada bagi para pengendara kendaraan yang akan melitasi jalan ini pada waktu minggu pagi.

Lanjut dalam perjalanan, kami melewati kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis. Bagi anda yang mengetahui sejarah daerah tersebut mungkin akan teringat tentang Kawali pada jaman dahulu yang pernah menjadi ibukota kerajaan Sunda-Galuh. Kawali menjadi Ibukota Kerajaan yang pernah di pimpin oleh Prabu Linggabuana yang tewas dalam perang bubat. Yang kemudian tampuk kepemimpinan kerajaan di jabat oleh saudaranya yaitu Prabu Bunisora yang berlanjut kepada Prabu Niskala Wastukancana, yang merupakan Anak dari Prabu Linggabuana. Kawali Tidak menjadi Ibukota kerajaan setelah Sri Baduga Maharaja, yaitu cucu dari Prabu niskala Wastukancana memindahakan ibukota ke Pakuan Pajajaran. Peninggalan-peninggalan Kawali sebagai Ibukota Kerajaan Sunda dan kita temukan di situs Astana gede. Kembali kepada perjalanan saya yang mencoba melewati jalur selatan, kami melintasi kota Ciamis namun kota yang terkenal oleh makanan khasnya yaitu galendo tak sempat kami untuk berhenti karena berpacu dengan waktu. Perjalanan dari Ciamis menuju Banjar di lalui dengan cukup lancar jalan yang begitu baik dan lebar cukup membuat nyaman berkendara namun waspada dengan kabut yang menghalangi pandangan saat kita berkendara terutama pagi hari.

Setelah sempat melintasi daerah Kawali yang pernah menjadi Ibukota kerajaan Sunda kali ini di lintasan jalan raya Ciamis – Banjar kami melewati situs Karang Kamulyan yang menjadi bekas ibukota kerajaan Galuh. Situs ini pernah saya kunjungi saat kecil, di dalam situs ini terdapat tempat-tenpat peninggalan kerajaan galuh seperti tempat sabung ayam atau cikahuripan dan lainnya. Tempat ini di kaitkan dengan legenda Ciung Wanara Memasuki Kota Banjar Jalan Raya semakin lebar dan penataan yang cukup rapi. Biasanya saya melewai jalan ini hendak berwisata menuju Pantai Pangandaran. Cukup Lama tidak berkunjung dan melihat Banjar, dari pengamatan saya Kota Banjar cukup pesat dalam hal pembangunan,terlihat dari penataan bantaran sungai citanduy dan gedung walikota banjar yang terlihat bagus dan baru, padahal Kota Banjar baru berdiri menjadi Kota pada tahun 2003. Selepas Kota Banjar jalanan menuju perbatasan Jawa Barat dan Jawa tengah cukup lengang. dan pemandangan di dominasi oleh perkebunan karet..,tepat di perbatasan Jabar dan Jateng terdapat tugu Pasukan Siliwangi di wilayaH Jabar dan patung Pangeran Diponegoro di wilayah Jateng. Bentuk perbatasan ini hampir sama dengan yang terdapat di Losari di jalur Pantura, yang juga di batasi oleh batas alam berupa sungai..,dan dengan terlewatinya perbatasan ini maka kami mulai memasuki wilayah Jawa Tengah

JALUR MATI KA KADIPATEN-CIREBON, MUNGKIKAH HIDUP KEMBALI?

Bekas Rel KA Cirebon-Kadipaten

Bekas Jembatan KA

Jalur kereta api Kadipaten-Cirebon dibuka oleh Perusahaan kereta api swasta Belanda bernama Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij atau disingakat SCS pada tahun 1901. Jalur ini merupakan jalur paling barat dari jalur-jalur lain yang dibuat oleh SCS. Stasiun Kadipaten merupakan stasiun ujung di barat dari sedangkan stasiun ujung di  timur milik SCS adalah stasiun Semarang Poncol di Kota Semarang.  Perusahaan kereta api SCS merupakan perusahaan kereta api swasta belanda yang menghubungkan seluruh jalur ke Pabrik Gula yang ada di sepanjang Pantai Utara Jawa dari Semarang di timur hingga Majalengka di Barat. Jalur kereta api ini yang sempat direncanakan akan di gabungkan dengan jalur Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari, dinonaktifkan atau mati sekitar tahun 1970, karena kalah bersaing dengan Transportasi darat lainya di Jalan raya Bandung-Cirebon yang bersampingan dengan jalur KA ini.

Jalur Kadiapten – Cirebon memiliki beberapa stasiun di sepanjang jalurnya, yaitu:

  1. Pasalaran
  2. Jamblang
  3. Palimanan
  4. Ciwaringin
  5. Bongas
  6. Jatiwangi
  7. Kasokandel
  8. Kadipaten.

Saya pernah tracking atau mblusukan jalur mati ini muali dari Kadipaten hingga Panjalin di perbatasan Kab. Majalengka dan Cirebon. Dimulai dari perempatan Kadipaten, yang menurut informasi tempat dimana stasiun Kadipaten berdiri, namun sayang sekarang stasiun Kadipaten sudah lenyap di telan bangunan-bangunan baru di lokasi tersebut. Di Kadipten masih dapat di jumpai sisa-sisa rel dan jembatan KA yaitu di dekat lampu merah, diduga jalur ini menyebrang melintasi jalur lori tebu Parik Gula Kadipaten, selain itu jalur yang melintasi jalan Brawijaya. Itu adalah sisa-sisa rel dar jalur KA Cirebon-Kadipaten karena di sepanjang saya tracking selepas kadipaten tidak dijumpai lagi rel yang ada, yang tampak hanya lah bekas jempatan saja yang masih utuh masih terdapat rangka besi tetapi ada pula yang hanya menyisakan rangka beton dari bekas jembatan KA. Jembatan yang sempat di abadikan lewat camera digital adalah jemabatan di kadiapten, kemudian jembatan dekat rumah sakit daerah Cideres, Burujul wetan, Disepanjang ibukota kecamatan Jatiwangi, dan teraknhir di Cisambeng, Palasah. Yang paling menarik di sepanjang tracking saya adalah masih adanya menara air kecil di pinggir jalan raya di daerah sumberjaya. Biasanya menara air ini di gunakan untuk mengisi air dari ketel loko uap, bangunan ini masih utuh bahkan tak jauh dari situ terdapat semur tua. Di sekitar menara itu pula terdapat bekas fondasi bangunan, tapi entah bangunan apa itu dan berapa jalur rel yang ada di dekat menara itu.

Penulis masih ingat pada saat kecil di alun-alun kecamatan Jatiwangi terdapat 4 jalur rel kereta api plus tempat wesel mekanik Kuno!. Namun sayang setelah adanya penatanan ulang kawasan alun-alun jatiwangi, 3 jalur KA ini dihilangkan. Dilihat dari banyaknya jalur yang ada dulu mungkin saja di dekat alun-alun Jatiwangi dulunya terdapat bangunan stasiun Jatiwangi.

Jalur Kereta Api (KA) kereta api Kadipaten-Cirebon memang telah tiada, namun dengan direncanakannya pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka ada usulan untuk mengaktifkan kembali jalur KA ini yang juga mengaktifkan Jalur Rancaekek-Tanjungsari dan menggabungkan keduanya sehingga terdapat jalur KA Bandung Cirebon Via Kadipaten, untuk mempersingkat waktu, karena saat ini KA dari Bandung menuju Semarang harus memutar menuju Cikampek sehingga Bandung Cirebon via Cikampek menempuh waktu 3,5 jam bandingkan di Bandung-Cirebon via Kadipaten yang hanya memakan waktu 1-2 jam. Semoga saja rencana Pemerintah ini bukanlah janji hanya sekedar janji. Sehingga Jalur KA Bandung-Cirebon via Kadipaten yang menggunakan bekas Jalur KA Cirebon-Kadipaten dapat terwujud, Semoga.

Bekas Menara air