Keliling Lawang Sewu

Keinginan saya berwisata ke Kota Semarang akhirnya tercapai, dan tempat wisata yang di tujuan adalah Lawang Sewu. Sudah lama saya ingin berkunjung ke tempat ini, karena begitu penasaran dengan bekas kantor pusat perusahaan kereta api swasta milik belanda bernama NIS (Nederlands-Indische Spoorwegen) ini. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Kota Yogyakarta menuju Semarang dengan waktu tempuh 2 1/2 jam dengan sepeda motorku, akhirnya saya yang kebetulan ditemani oleh seorang teman sampai juga di Kota Semarang. Setelah Sampai di Semarang kami sedikit kebingungan dengan letak Lawang Sewu, maklum saya baru pertama kali menginjak Kota Lumpia ini, tetapi pada akhirnya kami menemukan Gedung Lawang Sewu setelah melihat papan petunuk arah menuju Tugu Muda. Mengapa demikian, karena letak Tugu Muda berada di depan Bangunan Lawang Sewu.

Memasuki Bangunan Lawang Sewu dengan di temani oleh seorang pemandu, saya langsung di perlihatkan bagaimana arsitektur bangunan Lawang Sewu yang menawan. Yang paling mencolok saat memasuki Lawang sewu adalah kaca patri yang indah pada ruang utama. Yang tergambar di kaca tersebut adalah dua orang wanita Belanda dan di tengah-tengahnya terdapat roda kereta api. Menurut pemandu kami kedua wanita tersebut adalah penunggu Lawang Sewu, apa maksudnya? entahlah saya pun sedikit bingung tetapi mulai meraskan sesuatu yang lain di Lawang sewu. Selanjutnya Pemandu mengajak kami ke loteng atas Bangunan Lawang Sewu yang pada jaman Belanda di gunakan sebagai onderdil kereta api namun ketika “Saudara Tua” kita yaitu Jepang berkuasa di gunakan sebagai penjara dan dan tempat penyiksaan. Pemandu menceritakan bahwa para tahanan Jepang di gantung di tiang-tiang yang berada di tempat ini, Ia juga meperlihatkan salah satu tiang rangka atap yang melengkung terkena peluru meriam (atau mortir) pada saat pertempuran lima hari di Semarang terjadi. Diceritakan pula medan pertempuran terjadi di depan Lawang Sewu ini. Setelah juga mengunjungi salah satu menara. Kami melanjutkan perjalanan ke salah satu bangunan lainya yang ada di komplek Lawang Sewu ini. Di bangunan ini terdapat ruang bawah tanah. Saya dan teman cukup tertantang untuk masuk ke ruang bawah tanah ini, karena walau pun siang hari keadaan ruang bawah tanah ini terlihat sangat gelap. Setelah membayar biaya masuk untuk menyewa lampu senter, sepatu boat dan pemandu lainya, kami pun masuk keruang bawah tanah untuk menyusul rombongan wisatawan yang telah lebih dulu masuk. setelah melewati tangga dan berbelok menuju satu ruangan yang berbentuk seperti koridor kami melihat rombongan telah jauh meninggalkan kami, kami pun ragu untuk menyusulnya karena selain lantai ruang bawah tanah tergenang air juga karena saya baru tersadar bahwa tempat dimana saya beradau adalah ruangan yang pernah di gunakan sebagai tempat uji nyali oleh program acara dunia lain. saya dan teman pun segera untuk naik kembali dan menunggu rombongan selanjutnya.

Setelah mendapatkan rombongan (seluruhnya siswa smp dan perempuan), saya dan teman saya di tempatkan di barisan paling belakang!. cukup tenang juga pada awalnya menjelajahi ruang bawah tanah ini, Tetapi setelah pemandu menceritakan dan menjelaskan ruangan-ruangan apa saja dan “ada” di ruang bawah tanah ini, perasaan takut pun mulai muncul. Dari tentang penjara jongkok sampai ruangan yang sampai sekarang di tutup karena berisi mayat-mayat para tahanan yang tak sempat di buang ketika perang lima hari terjadi, serta tempat pemenggalan kepala tahanan oleh samurai prajurit atau penjaga penjara. perjalanan ini semakin menakutkan dan diperparah karena sang pemandu berbicara bawah, di belakang rombongan kita ada yang mengikuti!. Tentu saja saya yang pada akhirnya berada di barisan paling belakang setelah teman saya tiba-tiba merangsek masuk ke tengah rombongan, langsung mempercepat laju jalan dan sesekali menengok ke belakang. Sungguh pertama kalinya rasa takut menguasai saya. setelah berputar-putar di ruang bawah tanah rombongan yang saya ikuti dan akan keluar dari ruang bawah tanah, sang pemandu berhenti dan memerintahakan kami untuk duduk di pipa besi dan mematikan lampu senter. Sang pemandu ingin rombongan merasakan bagaimana seperti acara uji nyali. Ketika lampu senter padam seluruhya, pemandu memberitahukan agar seluruh rombongan melihat ke ujung lorong ruang bawah tanah. Saya pun mengikutinya, memecingkan mata dan, WOW sungguh pertama kalinya saya melihat “makhluk halus” sepanjang hidup saya, sosoknya hitam yang terkadang menghalangi sinar matahari yang sedikit masuk di ujung lorong. lalu pemandu cepat-cepat memerintahkan rombongan untuk segera naik karena, menurut dia makhkuk tersebut hendak menuju rombongan saya. Sungguh pengalaman yang menakutkan bagi saya namun cukup menjadi sebuah pengalaman berharga bagi saya.
Setelah keluar dari ruang bawah tanah dan Gedung Lawang Sewu, saya menikmati seporsi makanan khas Semarang yaitu Tahu Gimbal yang di jual oleh seorang pedagang di depan Lawang Sewu. Cukup unik juga kuliner satu ini. berisi sayur-sayuran, tahu goreng yang di bentuk kipas, juga telur dan kerupuk udang di sajikan dalam makanan tersebut. Selain itu bumbu yang di dominasi oleh Bawang putih dan tak lupa petis semakin menambah cita rasa Tahu Gimbal ini, apalagi saya menikmati kuliner ini sambil memandangi taman Tugu Muda yang cuaca kala itu cukup mendung.

Dengan habisnya satu porsi Tahu Gimbal dan semakin sorenya hari, saya pun beranjak meninggalkan Kota Semarang dengan sepeda motorku menuju Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s