Menempuh Jalur Selatan Jawa Bagian 2. (Habis)

Lepas Perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah kami memasuki Kabupaten Cilacap. Untuk pertama kalinya saya memasuki kabuapten Cilacap ini dari arah barat. Kabupaten ini adalah kabupaten dengan wilayah terluas di Provinsi Jawa Tengah. Karena saking luasnya maka akhir-akhir ini muncul aspirasi dari masyarakat cilacap bagian barat untuk memekarkan Kabupaten Cilacap menjadi 2 yaitu Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Majenang (Cilacap Barat). Alasan mereka adalah jauhnya pusat pemerintahan dengan wilayah mereka. Sebenarnya Pemerintah Kabupaten Cilacap mencoba memberi fasilitas pemerintahan di wilyah Majenang sekitarnya dengan membuat RSUD, kantor samsat dan lain sebagainya. Namun masyarakat Majenang tetap berkehendak untuk memekarkan diri dari Cilacap. Bahkan bila pemekaran yang di inginkan tidak bisa maka opsi lainya adalah untuk bergabung dengan Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis di Provinsi Jawa Barat. Mengapa alasan masyarakat Majenang terutama Dayeuhluhur memilih bergabung dengan Banjar atau Ciamis? Dilihat dari aspek ekonomi masyarakat Dayeuhluhur sangat tergantung perdagangan dengan Kota Banjar. Segala kebutuhan ekonomi berasal dari Banjar, Ciamis Bahkan Tasikmalaya. Mereka enggan bila berdagang ke Ibukota Kabupaten yaitu Cilacap, karena jarak yang ditempuh sangat jauh. Dari Aspek Budaya Masyarakat Majenang, Dayeuhluhur dan sekitarnya mempunyai adat istiadat Sunda. Sehingga ikatan emosional lebih cenderung ’sadulur’ dengan Kota Banjar atau Kab. Ciamis. Hal ini mengingatkan saya dengan problem yang sama di wilayah Cirebon.

Kembali ke perjalanan saya melintasi jalur selatan, sepanjang perjalanan dari Majenang hingga Wangon cenderung membosankan, selain menurut saya jalar yang sempit dan berlubang juga cenderung sepi. Selai itu pemandangan yang ditawarkan hanya perkebunan karet. Tapi meski demikian satu hal yang saya sukai dari Jalan lintas ini adalah, ketika pagi hari kabut dan embun masih sangat pekan, walau pun sedikit mengahalangi berkendara sepeda motor saya namun memberikan kesejukan dan warna lain dalam perjalanan ini. Ada keunikan yang saya temui dala perjalanan ini, adalah meski telah memasuki wilayah Jawa Tengah namun banyak sekali tempat-tempat yang berawalan ’CI’ yang biasanya di pakai di daerah Tatar Sunda, namun apabila kita melihat sejarah memang beberapa daerah di Jawa Tengah bagian barat dulunya menjadi bagian wilayah kerajaan Sunda, jadi tak heran sisa-sisa budaya sunda masih dapat di temukan.

Lepas Wangon jalanan cukup ramai berbeda dengan jalan antara majenang dan wangon yang relatif sepi. Jalanan cukup bagus namun ada di beberapa tempat keadaan cukup rusak. Melewati  perempatan buntu motor yang saya kendarai terus melaju menuju Jogjakarta. Sempat saya berhenti di Karangayar, Kebumen untuk beristirahat sejenak, karena hampir 6 jam berkendara motor nonstop dari Majalengka. Sempat di hadang hujan saat memasuki Kulon Progo namun akhirnya pada pukul 13.00 sampai juga di Jogjakarta. Demikian perjalanan pertama saya melewati jalur selatan Jawa, dan tunggu kisah menarik selanjutnya pada perjalanan saya untuk kembali pulang kekampung halaman, kali ini melewati jalur Purwokerto-Prupuk, Sampai berjumpa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s